Bank Indonesia Dorong Pesantren Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Syariah Nasional

  • Vinsensius Segu
  • 2018-12-12 16:46:05
Preview Gambar


UMKMNetwork - Pesantren digadang-gadang dapat memacu pertumbuhan ekonomi syariah di Nusantara. Ini mengingat para santri yang ada di dalamnya cenderung sudah mampu mandiri secara ekonomi dengan menjadi wiraswasta. Hanya saja, daya saing usaha para santri ini tetap perlu terus ditingkatkan agar manfaat ekonomi dari pesantren bisa lebih optimal.

“Para santri itu daya juangnya sudah tidak usah ditanya. Kemampuan untuk bersaing juga sudah teruji. Kini tinggal daya saing usaha wiraswastanya," ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam “Diskusi Tingkat Tinggi: Fastabiqul Khairat Melalui Pesantren Sebagai Salah Satu Rantai Nilai Halal” di Surabaya, Selasa (11/12), melalui rilis yang diterima UMKMNetwork.

Menurut Perry Warjiyo, cara peningkatan daya saing usaha santri bisa dilakukan dengan pembinaan. Diharapkan para santri dengan kegiatan ekonomi yang sudah maju membina para santri yang baru saja memulai kegiatan ekonomi.

Selain itu, perlu juga diciptakan kerja sama lintas ekonomi di sektor hulu dan hilir agar integrasi ekonomi syariah semakin tercipta.

"Pesantren yang sudah maju ekonominya, mari kita bersama-sama untuk membina dan memberdayakan ekonomi di pesantren lain," tegas Perry dalam acara yang merupakan bagian dari "Indonesia Sharia Economic Festival" tersebut.

Mengenai daya saing Indonesia sendiri, berdasarkan Global Competitiveness Report 2017—2018, secara umum peringkatnya berada di posisi 36 dari 137 negara. Posisi ini naik 5 peringatkan dibandingkan pada laporan tahun 2016—2017 di mana Indonesia hanya menempati peringkat 41 dari 137 negara.

Meskipun daya saingnya masih harus ditingkatkan, Perry yakin pesantren bisa berkontribusi apik bagi perekonomian, khususnya yang berbasis syariah. Karena itulah, ia mengharapkan para santri tidak hanya meningkatkan ilmu agamanya selama di pondokan, melainkan juga memperdalam ilmu ekonomi.

Sejauh ini, para santri dipandangnya sudah melakukan praktik ekonomi dasar. Misalnya dengan mengolah hasil pertanian dan perkebunan di kawasan sekitarnya. Hanya untuk itu, mesti terus dibekali dengan ilmu wiraswasta agar perekonomian dapat bernilai tambah dan berkelanjutan.

"Kita yakini, pesantren itu menjadi daya dobrak untuk ekonomi maju. Pemberdayaan ekonomi itu fikih. Pesantren tidak hanya ngaji fikih tapi juga ngaji sugih," imbuh bos bank sentral ini.

Bank Indonesia pun berkomitmen membangun ekonomi syariah lewat pesantren dengan menggalakkan tiga skema. Pertama, pengembangan berbagai unit usaha berpotensi yang memanfaatkan kerja sama antar pesantren.

Kedua, mendorong terjalinnya kerja sama bisnis antar pesantren melalui penyediaan virtual market produk usaha pesantren sekaligus business matching. Ketiga, pengembangan holding pesantren dan penyusunan standarisasi laporan keuangan untuk pesantren dengan nama SANTRI (Standar Akuntansi Pesantren Indonesia).

Melalui program-program tersebut, Perry mengharapkan pengembangan kemandirian ekonomi pesantren dapat menjadi penggerak utama dalam ekosistem halal value chain.

Program pengembangan ekonomi keumatan dengan melibatkan Pesantren sebenarnya juga sudah mulai dikembangkan oleh komunitas pesantren di tanah air. Salah satunya adalah Santri Millenial Center (SIMAC).

SIMAC yang juga merupakan buah pemikiran K.H Ma’ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini konsisten menjalankan program pemberdayaan ekonomi keumatan di seluruh wilayah Indonesia.

Gus Syauqi, Pembina SIMAC memaparkan, penting untuk mendorong anak-anak muda terutama kalangan santri menggeluti dunia wirausaha. Potensi anak muda yang begitu besar ini ditangkap oleh SIMAC untuk menjadi wadah berdiskusi, bertukar pikiran, dan memulai aksi untuk berwirausaha dalam Gerakan Santri Wirausahawan (GUS IWAN).

“Saya mengajak santri dan kaum muda di Cirebon untuk mulai berwirausaha dengan bergabung dalam GUS IWAN. Sudah saatnya, Pondok Pesantren tak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama tapi juga tempat belajar menggeluti dunia usaha,”ujar putra K.H Mar’uf Amin ini.

Gerakan santri wirausaha direspon sangat baik oleh para santri. Berkolaborasi dengan Asosiasi Kelompok Usaha Rakyat Indonesia (AKURINDO), SIMAC siap melahirkan sejuta santri usahawan di seluruh Indonesia.

“ Kami punya produk asuransi mikro. Para santri juga membutuhkan asuransi dalam berusaha. Karena unit usaha mikro ini sangat butuh untuk didampingi baik dalam akses modal sampai akses pasar. Dengan adanya asuransi akan memberikan kenyamanan bagi para calon pendukung akses modal,”kata Febri Wibawa Parsa, Sekretaris Jenderal (Sekjen) AKURINDO.

SIMAC dan AKURINDO memberikan kartu khusus bagi para santri dan pemuda yang menjadi anggotanya yakni Kartu GUS IWAN. Kartu anggota SIMAC ini bias difungsikan untuk akses modal, pelatihan, dan pembinaan hingga pengurusan izin usaha.

  • Vinsensius Segu
  • 2018-12-12 16:46:05

Komentar

×